Minggu malam aku dan istriku naik kereta api Sancaka dari Jombang menuju Solo. Kereta datang terlambat 10 menit. Kami memperkirakan sampai Solo masih sesuai jadwal atau terlambat tapi tidak sampai jam 8 malam. Dengan begitu aku masih bisa meneruskan perjalanan ke Jakarta dengan naik kereta api eksekutif Dwipangga. Sampai Madiun jam 6 sore kami masih optimis tidak terlambat untuk naik Dwipangga. Begitu sampai daerah Paron, pak kondektur tiba-tiba duduk didepan kami, dan bertanya apakah kita sudah sampai Paron? “Wah maaf pak saya nggak tahu”, jawabku. Kemudian pak kondektur menjelaskan kalau kereta api yang lewat Solo dilempari warga dan kami harus berhati-hati. Suasana jadi berubah, tapi waktu itu belum terasa. Istriku semakin ketakutan dan dia bersyukur aku mengantarnya ke Solo. Kereta api sering berhenti kemungkinan penyebabnya untuk menghindari lemparan warga yang marah. Sampai stasiun Jebres sudah jam 8 malam, suasana benar-benar mencekam. Tiba-tiba terdengar lemparan batu yang mengenai kaca, keras sekali. Kepanikan sempat terjadi, istriku langsung tiarap seperti perintah pak kondektur dan aku ditabraknya sampai terjatuh. Kami langsung menyambar selimut yang ada didepan kami untuk berlindung. Kami berlindung diantara kursi yang berbalikan. Lemparan bat u terus terdengar, kami tidak berani beranjak dari perlindungan. Suasana begitu mencekam sampai kereta tiba di stasiun Solo Balapan. Dan kami bisa bernapas lega, Alhamdulillah ya Allah kami selamat. Setelah turun dari kereta, saya melihat banyak kaca lereta yang pecah, dan Alhamdulillah tidak ada yang jadi korban. Menurut keterangan pak kondektur, warga marah dan balas dendam atas tindakan supporter Persib yang melempari batu ketika tiba di stasiun Purwosari Solo pada hari Sabtu. Tapi kenapa yang harus menjadi korban itu adalah penumpang yang tidak bersalah. Para penumpang yang naik kereta pasundan arah Surabaya juga menjadi korban. Ada yang terluka terkena lemparan batu sampai berdarah.
Inilah salah satu potret kehidupan di Indonesia, perang antar supporter sepak bola, yang mengakibatkan kerusakan dan kerugian cukup besar bagi masyarakat maupun pihak PT. KAI. Sampai kapan kejadian seperti ini terus terjadi, Tidak adakah solusi terbaik yang bisa diberikan oleh para pemimpin negeri ini?06 Oktober 2010
05 Oktober 2010
MIMPI NAIK KERETA API CEPAT

Sejak bertugas di Jakarta bulan Maret lalu, pulang ke yogya atau solo selalu naik kereta api. Dulu tidak pernah terlintas jadi anggota PJKA (pulang jumat kembali ahad). Alhamdulillah, ternyata banyak teman-teman yang melakukan hal yang sama. Awal-awal bulan, saya dan beberapa teman sering naik kereta api ekonomi Bengawan. Kereta api jurusan Jakarta tanah abang-solo jebres. Pertimbangannya sih tiketnya yang murah cuman Rp. 37.000,- jadi bisa irit ongkos pulang. Tapi konsekuensinya harus berdesak-desakan, untung selama ini selalu dapat tempat duduk. Banyak penumpang yang gak dapat tempat duduk, mereka berdiri dari Jakarta sampai purwokerto bahkan ada yang sampai stasiun kebumen. Ck..ck..ck.. perasaan heran, kagum, haru bercampur jadi satu. Belum lagi kalau para pedagang yang lalu lalang, mereka berusaha melompati para penumpang yang duduk di jalan gerbong kereta. 11 Jam saya menahan untuk tidak buang air kecil. Gimana mau buang air kecil lha wong kamar kecilnya aja sudah ditempati penumpang.
Alhamdulillah, walaupun dengan kondisi seperti itu saya menikmatinya. Begitulah gambaran naik kereta api ekonomi di negeri tercinta ini. Masyarakat dengan penghasilan rendah hanya bisa menikmati kereta ekonomi. Dan satu hal yang membuat saya kagum kepada mereka adalah tidak tampak diraut muka mereka adanya kegelisahan, kekecewaan. Mereka serasa menikmati perjalanan dengan hati yang riang. Atau mungkin mereka memang hanya bisa melakukan hal itu, pasrah dengan keadaan.
Kereta bisnis dengan tarif lebih mahal berbeda lagi kondisinya. Harga tiketnya untuk tujuan Jakarta-Solo rata-rata Rp. 130 ribu. Bisa dikatakan kondisi kereta ini lebih baik lagi, penumpang tidak berdesak-desakan. Waktu tempuh Jakarta-Solo pun lebih pendek. Toilet pun bisa digunakan dengan baik. Yang terbaik saat ini adalah kereta api eksekutif. Harga tiketnya rata-rata Rp. 300 ribu. Waktu tempuh Jakarta-Solo lebih pendek lagi. Ruangannya dingin karena memakai AC. Pokoknya nikmat.
Tapi secepat-cepatnya kereta api eksekutif seperti argo bromo, argo lawu masih kalah cepat dengan kereta api di luar negeri. Argo Bromo kecepatan rata-rata 90 km/jam. Padahal di Jepang kereta Shinkansen kecepatannya bisa mencapai 300 km/jam. Wuih, Jakarta Solo bisa ditempuh dalam waktu 3 jam saja. Kapan bisa menikmati kereta seperti ini di sini ya?
Saya pernah berbincang-bincang dengan salah seorang penumpang tujuan Bandung, dia bercerita tentang kereta api di luar negeri dan dibandingkan di Indonesia. Katanya, sebenarnya kita bisa mempunyai kereta cepat seperti Shinkansen itu, asalkan jalurnya memadai. Struktur jalur rel harus diperbaiki. Tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Hemm…. Masih berandai-andai kapan di Indonesia punya kereta seperti Shinkansen ya?
06 September 2010
SOLUSI PROBLEM SOUND/SUARA PADA COMPAQ PRESARIO V3000
Berikut caranya:
- Download dan install Microsoft UAA Audio Driver
- Download dan install Conexant High Definition Audio SP34386
- Restart laptop
Kalau gagal coba dengan cara manual yaitu:
- Klik kanan my computer dan klik properties kemudian klik hardware dan klik device manager
- Klik Sound, Video dan Game Controllers
- Klik kanan Conexant High Definition Audio dan update driver
- Pilih don’t search dan gunakan have disk
- Seleksi device drivernya SP34386
- Abaikan jika muncul error
13 Oktober 2009
Bagaimana bersikap kepada alam
Sayyid Quthb dalam fii zhilalil Qur’an mengatakan, ungkapan tersebut menunjukkan pandangan bodoh yang terputus hubungannya dengan Allah dan dengan ruh alam semesta yang tunduk kepada Allah. Seorang muslim percaya bahwa ada hubungan lain selain hubungan penaklukan dan kekerasan. Karena sesungguhnya Allah telah menundukkan alam untuk manusia dan memudahkannya untuk menyingkap rahasia-rahasianya dan mengenal hukum alam. Sikap seorang manusia muslim terhadap kekuatan alam adalah berusaha mengenalnya dan bersahabat dengannya, bukan takut dan memusuhinya. Hal itu disebabkan karena kekuatan manusia dan kekuatan alam itu bersumber dari irodah dan kehendak Allah, tunduk kepada irodah dan kehendak-Nya itu, saling mengisi dan saling membantu dalam gerak dan arahnya.
01 Oktober 2009
Nikmatnya I’tikaf Sepuluh hari di bulan Romadhon
Subhanallah banyak hal yang dapat aku peroleh selama sepuluh hari itu. Dari diskusi yang sering kami lakukan, aku mendapatkan banyak manfaat. Mungkin ini adalah berkah di bulan Romadhon. Dari sesuatu yang belum tahu menjadi tahu, sesuatu yang selama ini salah aku lakukan, jadi tahu kalau salah dan melakukan yang benar. Kami saling berbagi dalam segala hal, keilmuan, makanan berbuka, cerita. Aku merasakan nikmatnya kebersamaan selama mengikuti i’tikaf ini. Kami belajar untuk saling mengenal, saling menghormati, menghargai pendapat orang lain, saling tolong menolong.
Panitia i’tikaf telah mengagendakan beberapa kegiatan selama i’tikaf yaitu pagi setelah melaksanakan sholat shunnah Syuruq, ada kajian kitab taujihat nabawiyah, siang setelah Sholat Dhuhur dilanjutkan kembali dengan kajian kitab Taujihat nabawiyah. Kajian ini diasuh oleh ustadz Ahmad Chudori Lc. Kemudian ba’da sholat Ashar ada pelajaran tajwid yang diasuh oleh ustadz Sholihudin. Kegiatan rutin lainnya adalah ceramah ba’da shubuh, ceramah qobla taraweh, dan kajian tematik bagi peserta i’tikaf ba’da sholat taraweh yang disampaikan oleh ustadz-ustadz muda yang energik sepertiust. A. Chudori Lc, ust. Fauzil Adzim, Mas Salim A.Fillah, Mas Shofwan AlBanna, Kang Puji Hartono, ust Ardiyanto.
Padatnya kegiatan yang disiapkan oleh panitia tidak mengurangi jadwal tersendiri bagi peserta i’tikaf untuk berdzikir, dan bertilawah Al-Qur’an. Para peserta i’tikaf diberikan kebebasan untuk bermunajat kepada Allah di pertengahan malam hingga menjelang waktu sahur.
Begitulah gambaran kegiatan sewaktu mengikuti i’tikaf di masjid Jogokariyan. Semoga tahun depan masih dipertemukan dengan bulan Romadhon dan kembali mengikuti program i’tikaf sepuluh hari di masjid ini, Amien...
23 Agustus 2009
Zoning
Sedih rasanya melihat sawah yang lima tahun lalu kelihatan menghijau sekarang telah berubah menjadi bangunan mewah yang berdiri megah. Lima tahun lalu, ketika aku baru datang di kampung istriku, aku sering jalan-jalan pagi di sawah itu, tapi kini sedikit demi sedikit sawah itu telah berubah menjadi rumah. Udara segar yang dulu dapat aku nikmati sekarang berubah jadi panas.
Saudaraku, bagaimana nasib bangsa ini kedepan jika semua sawah yang subur itu sekarang sudah tidak ditanami padi lagi, atau ditanami jagung, tetapi sawah itu sekarang ditanami dengan batu bata, batu kali. Apakah makanan kita akan berubah jadi batu ?
Bayangan akan kesulitan pangan akan melanda negeri ini, terus menggelayuti pikiranku. Apa yang bisa aku lakukan ?
Pemerintah Daerah yang memiliki wewenang besar untuk mengatur semua ini. Yah, mereka harus segera bertindak dengan membuat peraturan peruntukan lahan. Peraturan ini sangat diperlukan agar tidak gampang terjadi konversi lahan dari fungsi pertamanya sebagai lahan pertanian menjadi lahan perumahan.
Dan hal ini telah dilakukan oleh Pemda Sleman Jogja. Mereka dengan tegas mengatur peruntukan lahan (zoning) sejak tahun 2001. Semoga hal ini dicontoh oleh pemda-pemda yang lain yang belum melakukannya.
Jayalah bangsaku, majulah pertanian negeri ku, Swasembada pangan pasti akan tercapai !!!
14 Juli 2009
IKLAN GRATIS YANG MENYESATKAN
“kalau bapaknya sopir angkot anaknya jadi pilot, kalau bapaknya loper koran anaknya jadi wartawan”. Kemudian dilanjutkan dengan lagu “sekolah gratis ada dimana-mana”.
Ketika orang melihat iklan ini pasti akan berpikir bahwa sekolah sekarang gratis. Artinya tidak bayar sepeserpun. Paradigma ini muncul tidak hanya karena iklan itu saja tetapi juga digembar-gemborkan oleh para kontestan politik saat kampanye.
Kenyataannya, diberbagai daerah banyak sekolah yang masih memungut biaya sekolah seperti biaya gedung, biaya seragam sekolah, biaya ekstrakurikuler. Karena melihat iklan ini banyak orang tua murid yang terbengong-bengong, katanya gratis kok masih bayar. Bahkan di daerah Bima, Nusa Tenggara Barat, orang tua murid berdemo mendatangi sekolah anaknya. Walaupun sudah dijelaskan oleh pihak sekolah mereka tetap tidak terima, alasannya ya iklan itu. Lain lagi dengan yang terjadi di Solo, ada salah seorang wali murid, yang bertanya kepada pihak sekolah kenapa masih harus bayar, jawabnya tanya saja ke dinas pendidikan.
Saya mencoba mengklarifikasi dengan membuka website Departemen Pendidikan Nasional tentang pendidikan gratis. Disana saya mendapatkan kejelasan bahwa yang gratis itu hanya untuk biaya SPP, biaya buku pendidikan dan biaya perawatan sekolah yang dimasukkan dalam BOS. Sedangkan biaya-biaya yang lain seperti biaya seragam, biaya ekstrakurikuler, biaya gedung tetap harus bayar.
Melihat hal ini menurut saya ada yang salah dengan iklan gratis ini, mengapa tidak dijelaskan bahwa yang gratis itu hanya SPP dan biaya buku. Ini jelas menimbulkan pemahaman yang salah bagi masyarakat kita, terutama yang tidak mampu.
Seharusnya, Departemen Pendidikan Nasional selaku pihak yang bertanggung jawab atas iklan ini melakukan update/perubahan iklan ini, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau penyesatan pemikiran ditengah-tengah masyarakat.